Kisah Nabi Ayyub AS beserta Mukjizat nya
12. Ayyub AS
Nabi Ayyub AS adalah putra dari Aish bin Ishaq AS bin Ibrahim AS.
Sebagaimana disebutkan dalam kisah Nabi Yaqub AS, Aish adalah saudara
kembar Nabi Yaqub AS, jadi Nabi Ayyub masih kemenakan Nabi Yaqub AS dan
sepupu Nabi Yusuf AS.
Nabi Ayyub AS adalah salah seorang nabi yang terkenal kaya raya,
hartanya melimpah, ternaknya tak terbilang jumlahnya. Namun demikian ia
tetap tekun beribadah, gemar berbuat kebajikan, suka menolong orang yang
menderita, terlebih dari golongan fakir miskin.
Keraguan iblis terhadap ketaatan Nabi Ayyub AS
Para malaikat di langit terkagum-kagum dan membicarakan tentang ketaatan
Ayyub dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Iblis yang
mendengar pembicaraan para malaikat ini merasa iri dan ingin
menjerumuskan Ayyub agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka.
Mula-mula iblis mencoba sendiri menggoda Nabi Ayyub agar tersesat dan
tidak bersyukur kepada Allah, namun usahanya ini gagal, Nabi Ayyub tetap
tak tergoyahkan. Lalu iblis menghadap Allah, meminta agak ia diizinkan
untuk menguji keikhlasan Nabi Ayyub. Ia berkata, "Wahai Tuhan,
sesungguhnya Ayyub senantiasa patuh dan berbakti kepada-Mu, senantiasa
memuji-Mu, tak lain hanyalah karena takut kehilangan kenikmatan yang
telah Engkau berikan kepadanya, karena ia ingin kekayaannya tetap
terpelihara. Semua ibadahnya bukan karena ikhlas, cinta, dan taat
kepada-Mu. Andaikata ia terkena musibah dan kehilangan harta benda,
serta anak-anak dan istrinya, belum tentu ia akan tetap taat dan ikhlas
menyembah-Mu."
Allah berfirman kepada iblis, "Sesungguhnya Ayyub adalah hamba-Ku yang
sangat taat kepada-Ku. Ia sesorang mu'min sejati. Apa yang ia lakukan
untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah semata-mata didorong iman yang
teguh kepada-Ku. Iman dan taqwanya takkan tergoyahkan hanya oleh
perubahan keadaan duniawi. Cintanya kepada-Ku takkan berkurang walaupun
ditimpa musibah apa pun yang melanda dirinya, karena ia yakin bahwa apa
yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut
daripadanya, atau Ku-jadikan berlipat ganda. Ia bersih dari segala
tuduhan dan prasangkamu.
Engkau tidak rela melihat hamba-hamba-Ku, anak cucu Adam, berada di atas
jalan yang lurus. Untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan keimanannya
pada takdir-Ku, Ku-izinkan kau menggoda dan mencoba memalingkannya
dari-Ku. Kerahkan seluruh pembantu-pembantumu untuk menggoda Ayyub
melalui harta dan keluarganya. Cerai beraikan keluarganya yang rukun
damai sejahtera itu. Lihatlah, sampai dimana kemampuanmu untuk
menyesatkan Ayyub hamba-Ku."
Ujian dan cobaan Allah terhadap Nabi Ayyub AS
Demikianlah, iblis dan para pembantunya mulai menyerbu keimanan Ayyub.
Mula-mula mereka membinasakan hewan ternak pemeliharaan Ayyub, disusul
lumbung-lumbung gandum dan lahan pertaniannya yang terbakar dan musnah.
Iblis mengira Ayyub akan berkeluh kesah setelah kehilangan ternak dan
pertaniannya, namun ternyata Ayyub tetap berhusnuzhon (berbaik sangka)
kepada Allah. Segalanya ia pasrahkan kepada Allah. Harta adalah titipan
Allah yang sewaktu-waktu dapat saja diambil kembali.
Berikutnya iblis mendatangi putra-putra Nabi Ayyub AS yang sedang berada
di sebuah gedung yang besar dan megah. Mereka menggoyang-goyangkan
tiang-tiang gedung sehingga gedung itu roboh dan anak-anak Ayyub yang
berada di dalamnya mati semuanya.
Iblis mengira usahanya kali ini akan berhasil menggoyahkan iman Nabi
Ayyub yang sangat menyayangi putra-putranya itu, namun sekali lagi
mereka harus kecewa. Nabi Ayyub tetap berserah diri kepada Allah. Ia
memang bersedih hati dan menangis, tapi jiwa dan hatinya tetap kokoh
dalam keyakinan bahwa jika Allah yang Maha Pemberi menghendaki sesuatu,
tak ada seorang pun yang mampu menghalangi-Nya.
Iblis yang masih belum puas, lalu menaruh baksil di sekujur tubuh Ayyub
sehingga beliau menderita penyakit kulit yang sangat menjijikkan, hingga
ia dijauhi sanak famili dan tetangganya. Istri-istrinya banyak yang
lari meninggalkannya, hanya seorang saja yang tetap setia
mendampinginya, yaitu Rahmah. Lebih parah lagi, para tetangga Nabi Ayyub
AS yang tidak mau ketularan penyakit yang diderita Nabi Ayyub,
mengusirnya dari kampung mereka. Maka pergilah Nabi Ayyub dan istrinya
Rahmah ke sebuah tempat yang sepi dari manusia.
Waktu 7 tahun dalam penderitaan terus-menerus memang merupakan ujian
terberat bagi Ayyub dan Rahmah, namun Nabi Ayyub tetap bersabar dan
berzikir menyebut Asma Allah. Diriwayatkan bahwa istrinya berkata, "Hai
Ayyub, seandainya engkau berdoa kepada Tuhanmu, niscaya dia akan
membebaskanmu."
Namun Nabi Ayyub AS malah menjawab, "Aku telah hidup selama 70 tahun
dalam keadaan sehat, dan Allah baru mengujiku dalam keadaan sakit selama
7 tahun. Ketahuilah, itu amat sedikit dibandingkan masa 70 tahun."
Begitulah, Nabi Ayyub menerima ujian dari Allah SWT dengan sabar dan
ikhlas. Ia telah hidup dalam kenikmatan selama puluhan tahun, maka ia
merasa malu untuk berkeluh kesah kepada Allah SWT atas kesengsaraan yang
hanya beberapa tahun. Sakit Nabi Ayyub membuat tidak ada lagi anggota
badannya yang utuh kecuali jantung/hati dan lidahnya. Dengan hati dan
lidahnya ini, Nabi Ayyub AS tak pernah berhenti berzikir kepada Allah,
baik di waktu pagi, siang, sore dan malam hari.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Rahmah terpaksa bekerja
pada suatu pabrik roti. Pagi ia berangkat, sorenya ia kembali ke rumah
pengasingan. Namun lama-kelamaan majikannya mengetahui bahwa Rahmah
adalah istri Nabi Ayyub yang memiliki penyakit berbahaya. Mereka
khawatir Rahmah akan membawa baksil yang dapat menular melalui roti,
oleh sebab itu mereka kemudian memecatnya.
Rahmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta agar
majikannya berkenan memberinya hutang roti, tetapi permintaannya ini
ditolak. Majikannya hanya mau memberinya roti jika ia memotong gelung
rambutnya yang panjang, padahal gelung rambut itu sangat disukai
suaminya. Namun demi untuk mendapatkan roti, Rahmah akhirnya setuju
dengan usul majikannya itu.
Ternyata, perbuatannya itu membuat Ayyub menduga bahwa ia telah
menyeleweng. Akhirnya pada suatu hari, mungkin karena sudah tidak tahan
dengan penderitaan yang terus-menerus dihadapi, Rahmah pamit untuk
meninggalkan suaminya. Ia beralasan ingin bekerja agar dapat menghidupi
suaminya. Nabi Ayyub melarangnya, tapi Rahmah tetap bersikeras sembari
berkeluh kesah. Sesungguhnya tindakan Rahmah ini pun tak lepas dari
peranan iblis yang menghasutnya untuk meninggalkan suaminya Ayyub.
Mendengar keluh kesah istrinya, berkatalah Ayyub, "Kiranya kau telah
terkena bujuk rayu iblis, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah.
Awas, kelak jika aku telah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai
saat ini tinggalkan aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu
sampai Allah menentukan takdir-Nya."
Dengan demikian tinggallah kini Nabi Ayyub seorang diri setelah ia
mengusir Rahmah istrinya. Di tengah kesendiriannya, Nabi Ayyub AS
bermunajat kepada Allah SWT dengan sepenuh hati memohon rahmat dan
kasih-Nya. Allah SWT menerima doa Nabi Ayyub AS yang telah mencapai
puncak kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian dan cobaan.
Berfirmanlah Ia kepada Nabi Ayyub, "Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari
situ akan memancar air yang dengannya kau akan sembuh dari penyakitmu.
Kesehatanmu akan pulih jika kau mempergunakannya untuk minum dan mandi."
Setelah meminum dan mandi dengan air itu, Ayyub pun sembuh seperti sedia
kala. Sementara itu Rahmah istrinya yang telah pergi meninggalkannya,
rupanya lama-kelamaan merasa kasihan dan tak tega membiarkan suaminya
seorang diri. Ia datang untuk menjenguk, namun ia tak mengenali lagi
suaminya, karena kini Nabi Ayyub tampak lebih sehat, lebih segar, dan
lebih tampan. Nabi Ayyub sangat gembira melihat istrinya kembali, namun
ia teringat sumpahnya yaitu ingin memukul istrinya seratus kali. Ia
harus melaksanakan sumpah itu, tapi ia bimbang karena bagaimanapun
istrinya telah turut menderita sewaktu bersamanya 7 tahun ini. Tegakah
ia memukulnya seratus kali?
Allah mengetahui kebimbangan yang dirasakan Nabi Ayyub AS. Maka
datanglah wahyu Allah kepada Nabi Ayyub, "Hai Ayyub, ambillah lidi
seratus batang dan pukullah istrimu sekali saja. Dengan demikian
tertebuslah sumpahmu."
Nabi Ayyub merasa lega dengan jalan keluar yang diwahyukan Allah itu.
Dengan lidi seratus, dipukulnya istrinya dengan satu kali pukulan yang
sangat pelan, maka sumpahnya telah terlaksana.
Berkat kesabaran dan keteguhan imannya, Nabi Ayyub AS dikaruniai lagi
harta benda yang melimpah ruah. Dari Rahmah, ia kemudian memperoleh anak
bernama Basyar yang kemudian hari menjadi seorang nabi yang dikenal
dengan nama Zulkifli.
Kisah Nabi Ayyub AS ini merupakan teladan bagi hamba-hamba-Nya dalam hal
kesabaran dan keteguhan iman. Riwayat Nabi Ayyub AS terdapat dalam
surat Al-Anbiyâ: 83-84 dan surat Sâd: 41-44.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar