Minggu, 17 Agustus 2014

Meriam Puntung sangat erat kaitannya dengan Kerajaan Aceh

Misteri Meriam Puntung, Kisah Haru Dari Kerajaan Haru

Misteri Meriam Puntung, Kisah Haru Dari Kerajaan HaruMeriam Puntung-Fiqih
BERDENGUNG, begitulah kita mendengar suara dari Meriam Puntung. Lekatkan kuping ke lubang di Meriam, suara itu akan terdengar jelas dan penuh misteri.
Meriam Puntung terletak disebelah kanan Istana Maimun Kota Medan. Cerita misteri dan suara dari Meriam menjadi daya tarik wisatawan untuk masuk kedalam.
Tidak perlu mahal untuk masuk, cukup merogoh kocek Rp. 3 Ribu anda langsung dapat melihat “belahan” Meriam yang diberikan sesajen didekatnya.

Memang meriam ini hanya bagian belakang meriam, sedangkan belahan satunya lagi berada di Desa Sukanalu Tanah Karo Sumatera Utara bersama pelurunya.
Konon katanya, seperti yang dikisahkan penjaga, Meriam Puntung sangat erat kaitannya dengan Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh ketika itu ingin mempersunting Putri Hijau yang dikenal dengan kecantikannya. Namun, sang putri menolak sehingga terjadilah perang kepada Kerajaan Putri Hijau yaitu Kerajaan Haru.
Namun, mitos itu juga menyebutkan bukan hanya karena meminang putri Kerajaan Aceh menyerang Kerajaan Haru, tapi juga karena ingin menyebar Agama Islam, dimana kerajaan Haru ketika itu masih mengikuti kepercayaan Nenek Moyang.
Saat terjadi perang, Kerajaan Haru kalah, namun adik dari Putri Hijau mempunyai kesaktian dan menjelma sebagai meriam. Karena terus-terusan digunakan meriam akhirnya terbelah dua dan sisi depannya terpental ke Desa Sukanalu.
Kerajaan Aceh berhasil mengalahkan Kerajaan Haru, pemerintahan menjadi pemerintahan Islam. Ketika itu dipimpin oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam, lewat mimpi dia dibawa untuk menemukan Meriam Puntung tersebut.
Begitulah sedikit cuplikan mitosnya. Namun banyak mitos-mitos lain tentang Meriam Puntung tersebut. Keluar dari mitos itu, Saat ini Meriam Puntung dijaga dengan baik di Istana Maimun.
Ukuran ruangannya sekitar 5 x 6 meter, dengan keramik putih. Meriam Puntung terbaring dan selalu terasa dingin ketika kita menyentuhnya, persis kita berada dipeninggalan sejarah itu.
| FIQIH PURNAMA AN NASR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar