Kisah Nabi Muhammad SAW beserta Mukjizat nya
25. Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW adalah nabi pembawa risalah Islam, rasul terakhir
penutup rangkaian nabi-nabi dan rasul-rasul Allah SWT di muka bumi. Ia
adalah salah seorang dari yang tertinggi di antara 5 rasul yang termasuk
dalam golongan Ulul Azmi atau mereka yang mempunyai keteguhan hati (QS.
46: 35). Keempat rasul lainnya dalam Ulul Azmi tsb ialah Ibrahim AS,
Musa AS, Isa AS, dan Nuh AS.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang paling
mulia dalam suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Ayahnya
bernama Abdullah Muttalib, seorang kepala suku Quraisy yang besar
pengaruhnya. Ibunya bernama Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah. Baik
dari garis ayah maupun garis ibu, silsilah Nabi Muhammad SAW sampai
kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan nama Tahun Gajah,
karena pada tahun itu terjadi peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan
gajah menyerbu Mekah dengan tujuan menghancurkan Ka'bah. Pasukan itu
dipimpin oleh Abrahah, gubernur Kerajaan Habsyi di Yaman. Abrahah ingin
mengambil alih kota Mekah dan Ka'bahnya sebagai pusat perekonomian dan
peribadatan bangsa Arab. Ini sejalan dengan keingin Kaisar Negus dari
Ethiopia untuk menguasai seluruh tanah Arab, yang bersama-sama dengan
Kaisar Byzantium menghadapi musuh dari timur, yaitu Persia (Irak).
Dalam penyerangan Ka'bah itu, tentara Abrahah hancur karena terserang
penyakit yang mematikan yang dibawa oleh burung Ababil yang melempari
tentara gajah. Abrahah sendiri lari kembali ke Yaman dan tak lama
kemudian meninggal dunia.
Peristiwa ini dikisahkan dalam Al-Qur'an surat Al-Fîl: 1-5.
Beberapa bulan setelah penyerbuan tentara gajah, Aminah melahirkan
seorang bayi laki-laki, yang diberi nama Muhammad. Ia lahir pada malam
menjelang dini hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, bertepatan dengan
20 April 570 M. Saat itu ayah Muhammad, Abdullah, telah meninggal
dunia.
Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya, Abdul Muttalib. Nama itu sedikit
ganjil di kalangan orang-orang Quraisy, karenanya mereka berkata kepada
Abdul Muttalib, "Sungguh di luar kebiasaan, keluarga Tuan begitu besar,
tetapi tak satu pun yang bernama demikian." Abdul Muttalib menjawab,
"Saya mengerti. Dia memang berbeda dari yang lain. Dengam nama ini saya
ingin agar seluruh dunia memujinya."
Masa pengasuhan Haliman binti Abi Du'aib as-Sa'diyah
Adalah suatu kebiasaan di Mekah, anak yang baru lahir diasuh dan disusui
oleh wanita desa dengan maksud supaya ia bisa tumbuh dalam pergaulan
masyarakat yang baik dan udara yang lebih bersih. Saat Muhammad lahir,
ibu-ibu dari desa Sa'ad datang ke Mekah menghubungi keluarga-keluarga
yang ingin menyusui anaknya. Desa Sa'ad terletak kira-kira 60 km dari
Mekah, dekat kota Ta'if, suatu wilayah pegunungan yang sangat baik
udaranya.
di antara ibu-ibu tsb terdapat seorang wanita bernama Halimah binti Abu
Du'aib as Sa'diyah. Keluarga Halimah tergolong miskin, karenanya ia
sempat ragu untuk mengasuh Muhammad karena keluarga Aminah sendiri juga
tidak terlalu kaya. Akan tetapi entah mengapa bayi Muhammad sangat
menawan hatinya, sehingga akhirnya Halimah pun mengambil Muhammad SAW
sebagai anak asuhnya.
Ternyata kehadiran Muhammad SAW sangat membawa berkah pada keluarga
Halimah. Dikisahkan bahwa kambing peliharaan Haris, suami Halimah,
menjadi gemuk-gemuk dan menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya.
Rumput tempat menggembala kambing itu juga tumbuh subur. Kehidupan
keluarga Halimah yang semula suram berubah menjadi bahagia dan penuh
kedamaian. Mereka yakin sekali bahwa bayi dari Mekah yang mereka asuh
itulah yang membawa berkah bagi kehidupan mereka.
Tanda-tanda kenabian
Sejak kecil Muhammad SAW telah memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa.
Usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu
berbicara. Pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak
Halimah yang lain untuk menggembala kambing. Saat itulah ia berhenti
menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi pada ibunya. Dengan berat
hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang telah membawa
berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam
keadaan sehat dan segar.
Namun tak lama setelah itu Muhammad SAW kembali diasuh oleh Halimah
karena terjadi wabah penyakit di kota Mekah. Dalam masa asuhannya kali
ini, baik Halimah maupun anak-anaknya sering menemukan keajaiban di
sekitar diri Muhammad SAW. Anak-anak Halimah sering mendengar suara yang
memberi salam kepada Muhammad SAW, "Assalamu 'Alaika ya Muhammad,"
padahal mereka tidak melihat ada orang di situ.
Dalam kesempatan lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil
menangis dan mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar dan
berpakaian putih menangkap Muhammad SAW. Halimah bergegas menyusul
Muhammad SAW. Saat ditanyai, Muhammad SAW menjawab, "Ada 2 malaikat
turun dari langit. Mereka memberikan salam kepadaku, membaringkanku,
membuka bajuku, membelah dadaku, membasuhnya dengan air yang mereka
bawa, lalu menutup kembali dadaku tanpa aku merasa sakit."
Halimah sangat gembira melihat keajaiban-keajaiban pada diri Muhammad
SAW, namun karena kondisi ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia
terpaksa mengembalikan Muhammad SAW, yang saat itu berusia 4 tahun,
kepada ibu kandungnya di Mekah.
Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad SAW telah menjadi yatim-piatu. Aminah
meninggal karena sakit sepulangnya ia mengajak Muhammad SAW berziarah ke
makam ayahnya. Setelah kematian Aminah, Abdul Muttalib mengambil alih
tanggung jawab merawat Muhammad SAW. Namun kemudian Abdul Muttalib pun
meninggal, dan tanggung jawab pemeliharaan Muhammad SAW beralih pada
pamannya, Abi Thalib.
Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib mengabulkan permintaan Muhammad SAW
untuk ikut serta dalam kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam
(Suriah). Usia 12 tahun sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam
perjalanan seperti itu, namun dalam perjalanan ini kembali terjadi
keajaiban yang merupakan tanda-tanda kenabian Muhammad SAW.
Segumpal awan terus menaungi Muhammad SAW sehingga panas terik yang
membakar kulit tidak dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak
kafilah rombongan Muhammad SAW. Bila mereka berhenti, awan itu pun ikut
berhenti. Kejadian ini menarik perhatian seorang pendeta Kristen bernama
Buhairah yang memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Ia menguasai
betul isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat dalam kafilah
itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang mengendarai
unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar matahari oleh
segumpal awan di atas kepalanya. "Inilah Roh Kebenaran yang dijanjikan
itu," pikirnya.
Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-iringan kafilah itu dan
mengundang mereka dalam suatu perjamuan makan. Setelah
berbincang-bincang dengan Abi Thalib dan Muhammad SAW sendiri, ia
semakin yakin bahwa anak yang bernama Muhammad adalah calon nabi yang
ditunjuk oleh Allah SWT. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh kenyataan
bahwa di belakang bahu Muhammad SAW terdapat sebuah tanda kenabian.
Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah berpesan pada
Abi Thalib, "Saya berharap Tuan berhati-hati menjaganya. Saya yakin
dialah nabi akhir zaman yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat
manusia. Usahakan agar hal ini jangan diketahui oleh orang-orang Yahudi.
Mereka telah membunuh nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa
yang saya terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab
Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan."
Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abi Thalib segera
mempercepat urusannya di Suriah dan segera pulang ke Mekah.
Gelar al-Amin
Pada usia 20 tahun, Muhammad SAW mendirikan Hilful-Fudûl, suatu lembaga
yang bertujuan membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di
Mekah memang sedang kacau akibat perselisihan yang terjadi antara suku
Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudûl inilah sifat-sifat
kepemimpinan Muhammad SAW mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam
lembaga ini, disamping ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin
terkenal sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas
karena berita kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut, sehingga
ia mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang yang terpercaya.
Selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang adil dan memiliki rasa
kemanusiaan yang tinggi. Suatu ketika bangunan Ka'bah rusak karena
banjir. Penduduk Mekah kemudian bergotong-royong memperbaiki Ka'bah.
Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan peletakan Hajar Aswad ke
tempatnya semula, terjadi perselisihan. Masing-masing suku ingin
mendapat kehormatan untuk melakukan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu
dari mereka kemudian berkata, "Serahkan putusan ini pada orang yang
pertama memasuki pintu Shafa ini."
Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad SAW muncul dari sana.
Semua hadirin berseru, "Itu dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami
rela menerima semua keputusannya."
Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad SAW lalu membentangkan
sorbannya di atas tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah,
lalu meminta semua kepala suku memegang tepi sorban itu dan
mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian yang
diharapkan, Muhammad SAW meletakkan batu itu pada tempatnya semula.
Dengan demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan
mereka pun puas dengan cara penyelesaian yang sangat bijak itu.
Pernikahan dengan Khadijah
Pada usia 25 tahun, atas permintaan Khadijah binti Khuwailid, seorang
saudagar kaya raya, Muhammad SAW berangkat ke Suriah membawa barang
dagangan saudagar wanita yang telah lama menjanda itu. Ia dibantu oleh
Maisaroh, seorang pembantu lelaki yang telah lama bekerja pada Khadijah.
Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad SAW, Khadijah telah menaruh
simpati melihat penampilan Muhammad SAW yang sopan itu. Kekagumannya
semakin bertambah mengetahui hasil penjualan yang dicapai Muhammad SAW
di Suriah melebihi perkiraannya.
Akhirnya Khadijah mengutus Maisaroh dan teman karibnya, Nufasah untuk
menyampaikan isi hatinya kepada Muhammad SAW. Khadijah yang berusia 40
tahun, melamar Muhammad SAW untuk menjadi suaminya.
Setelah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu akhirnya diterima
dan dalam waktu dekat segera diadakan upacara pernikahan dengan
sederhana. yang hadir dalam acara itu antara lain Abi Thalib, Waraqah
bin Nawfal dan Abu Bakar as-Siddiq.
Pernikahan bahagia itu dikaruniai 6 orang anak, terdiri dari 2 anak
lelaki bernama Al-Qasim dan Abdullah, dan 4 anak perempuan bernama
Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kedua anak lelakinya
meninggal selagi masih kecil. Nabi Muhammad SAW tidak menikah lagi
sampai Khadijah meninggal, saat Muhammad SAW berusia 50 tahun.
Dalam kehidupan rumah-tangganya dengan Khadijah, Muhammad SAW tidak
pernah menyakiti hati istrinya. Sebaliknya istrinya pun ikhlas
menyerahkan segalanya pada suaminya. Kekayaan istrinya digunakan oleh
Muhammad SAW untuk membantu orang-orang miskin dan tertindas.
Budak-budak yang telah dimiliki Khadijah sebelum pernikahan mereka,
semuanya ia bebaskan, salah satunya adalah Zaid bin Haritsah yang
kemudian menjadi anak angkatnya.
Wahyu pertama
Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad SAW sering berkhalwat
(menyendiri) ke Gua Hira, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah. Ia bisa
berhari-hari bertafakur dan beribadah disana. Suatu ketika, pada
tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang
memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya
sambil berkata, "Iqra' (bacalah)." Lalu Muhammad SAW menjawab, "Mâ anâ
bi qâri' (saya tidak dapat membaca)." Mendengar jawaban Muhammad SAW,
Jibril lalu memeluk tubuh Muhammad SAW dengan sangat erat, lalu
melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad SAW membaca. Namun setelah
dilakukan sampai 3 kali dan Muhammad SAW tetap memberikan jawaban yang
sama, Malaikat Jibril kemudian menyampaikan wahyu Allah SWT pertama,
yang artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan. Ia menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Paling Pemurah.
yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. 96: 1-5)
Saat itu Muhammad SAW berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut
perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39
tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah (penanggalan
berdasarkan matahari). Dengan turunnya 5 ayat pertama ini, berarti
Muhammad SAW telah dipilih oleh Allah SWT sebagai rasul.
Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa ketakutan dan
cemas Nabi Muhammad SAW pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah,
"Selimuti aku, selimuti aku." Sekujur tubuhnya terasa panas dan dingin
berganti-ganti. Setelah lebih tenang, barulah ia bercerita kepada
istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Nabi
Muhammad SAW datang pada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang
banyak mengetahui kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita
yang dialami Nabi Muhammad SAW, Waraqah pun berkata, "Aku telah
bersumpah dengan nama Tuhan, yang dalam tangan-Nya terletak hidup
Waraqah, Tuhan telah memilihmu menjadi nabi kaum ini. An-Nâmûs al-Akbar
(Malaikat Jibril) telah datang kepadamu. Kaummu akan mengatakan bahwa
engkau penipu, mereka akan memusuhimu, dan mereka akan melawanmu.
Sungguh, sekiranya aku dapat hidup pada hari itu, aku akan berjuang
membelamu."
Dakwah Nabi Muhammad SAW
Wahyu berikutnya adalah surat Al-Muddatsir: 1-7, yang artinya:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah
peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan
perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu
memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan
untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74: 1-7)
Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah SAW
berdakwah. Mula-mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di
lingkungan keluarga dan rekan-rekannya. Orang pertama yang menyambut
dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk
Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya
yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki
pertama yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak
masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas
budak yang telah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi
SAW sejak ibunya masih hidup.
Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang teman
dekatnya, seperti, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin
Auf, Sa'd bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang
masih rahasia ini, belasan orang telah masuk Islam.
Setelah beberapa lama Nabi SAW menjalankan dakwah secara diam-diam,
turunlah perintah agar Nabi SAW menjalankan dakwah secara
terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya dalam sebuah
jamuan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ajarannya. Namun ternyata
hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian
menolak dengan kasar, salah satunya adalah Abu Lahab.
Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad SAW dalam pertemuan yang
lebih besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia
berteriak memanggil orang banyak. Karena Muhammad SAW adalah orang yang
terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi sesuatu yang sangat
penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi SAW.
Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi SAW berkata, "Saudara-saudaraku,
jika aku berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap
menyerang kalian, percayakah kalian?"
Dengan serentak mereka menjawab, "Percaya, kami tahu saudara belum
pernah berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya. Saudara yang
mendapat gelar al-Amin."
Kemudian Nabi SAW meneruskan, "Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini
adalah seorang nazir (pemberi peringatan). Allah telah memerintahkanku
agar aku memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah
Allah saja. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara
akan terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan
kemudian tidak ada gunanya."
Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah,
bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada saat itu,
Abu Lahab berteriak, "Celakalah engkau hai Muhammad. Untuk inikah engkau
mengumpulkan kami?"
Sebagai balasan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur'an yang artinya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula)
isterinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut.
(QS. 111: 1-5)
Aksi-aksi menentang Dakwah Nabi Muhammad SAW
Reaksi-reaksi keras menentang dakwah Nabi SAW bermunculan, namun tanpa
kenal lelah Nabi Muhammad SAW terus melanjutkan dakwahnya, sehingga
hasilnya mulai nyata. Hampir setiap hari ada yang menggabungkan diri
dalam barisan pemeluk agama Islam. Mereka terutama terdiri dari kaum
wanita, budak, pekerja, dan orang-orang miskin serta lemah. Meskipun
sebagian dari mereka adalah orang-orang yang lemah, namun semangat yang
mendorong mereka beriman sangat membaja.
Tantangan dakwah terberat datang dari para penguasa Mekah, kaum feodal,
dan para pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan tradisi lama
disamping juga khawatir jika struktur masyarakat dan
kepentingan-kepentingan dagang mereka akan tergoyahkan oleh ajaran Nabi
Muhammad SAW yang menekankan pada keadilan sosial dan persamaan derajat.
Mereka menyusun siasat untuk melepaskan hubungan keluarga antara Abi
Thalib dan Nabi Muhammad SAW dengen cara meminta pada Abu Thalib memilih
satu di antara dua: memerintahkan Muhammad SAW agar berhenti berdakwah,
atau menyerahkannya kepada mereka. Abi Thalib terpengaruh oleh ancaman
itu, ia meminta agar Muhammad SAW menghentikan dakwahnya. Tetapi
Muhammad SAW menolak permintaannya dan berkata, "Demi Allah saya tidak
akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota
keluarga dan sanak saudara mengucilkan saya."
Mendengar jawaban ini, Abi Thalib pun berkata, "Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu".
Gagal dengan cara pertama, kaum Quraisy lalu mengutus Walid bin Mugirah
menemui Abi Thalib dengan membawa seorang pemuda untuk dipertukarkan
dengan Muhammad SAW. Pemuda itu bernama Umarah bin Walid, seorang pemuda
yang gagah dan tampan. Walid bin Mugirah berkata, "Ambillah dia menjadi
anak saudara, tetapi serahkan kepada kami Muhammad untuk kami bunuh,
karena dia telah menentang kami dan memecah belah kita".
Usul Quraisy itu ditolak mentah-mentah oleh Abi Thalib dengan berkata,
"Sungguh jahat pikiran kalian. Kalian serahkan anak kalian untuk saya
asuh dan beri makan, dan saya serahkan kemenakan saya untuk kalian
bunuh. Sungguh suatu penawaran yang tak mungkin saya terima."
Kembali mengalami kegagalan, berikutnya mereka menghadapi Nabi Muhammad
SAW secara langsung. Mereka mengutus Utbah bin Rabi'ah, seorang ahli
retorika, untuk membujuk Nabi SAW. Mereka menawarkan takhta, wanita, dan
harta yang mereka kira diinginkan oleh Nabi SAW, asal Nabi SAW bersedia
menghentikan dakwahannya. Namun semua tawaran itu ditolak oleh Nabi
Muhammad SAW dengan mengatakan, "Demi Allah, biarpun mereka meletakkan
matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan
menghentikan dakwah agama Allah ini, hingga agama ini memang atau aku
binasa karenanya."
Setelah gagal dengan cara-cara diplomatik dan bujuk rayu, kaum Quraisy
mulai melakukan tindak kekerasan. Budak-budak mereka yang telah masuk
Islam mereka siksa dengan sangat kejam. Mereka dipukul, dicambuk, dan
tidak diberi makan dan minum. Salah seorang budak bernama Bilal,
mendapat siksaan ditelentangkan di atas pasir yang panas dan di atas
dadanya diletakkan batu yang besar dan berat.
Setiap suku diminta menghukum anggota keluarganya yang masuk Islam
sampai ia murtad kembali. Usman bin Affan misalnya, dikurung dalam kamar
gelap dan dipukul hingga babak belur oleh anggota keluarganya sendiri.
Secara keseluruhan, sejak saat itu umat Islam mendapat siksaan yang
pedih dari kaum Quraisy Mekah. Mereka dilempari kotoran, dihalangi untuk
melakukan ibadah di Ka'bah, dan lain sebagainya.
Kekejaman terhadap kaum Muslimin mendorong Nabi Muhammad SAW untuk
mengungsikan sahabat-sahabatnya keluar dari Mekah. Dengan pertimbangan
yang mendalam, pada tahun ke-5 kerasulannya, Nabi SAW menetapkan
Abessinia atau Habasyah (Ethiopia sekarang) sebagai negeri tempat
pengungsian, karena raja negeri itu adalah seorang yang adil, lapang
hati, dan suka menerima tamu. Nabi SAW merasa pasti rombongannya akan
diterima dengan tangan terbuka.
Rombongan pertama terdiri dari 10 orang pria dan 5 orang wanita. di
antara rombongan tsb adalah Usman bin Affan beserta istrinya Ruqayah
(putri Rasulullah SAW), Zubair bin Awwam, dan Abdur Rahman bin Auf.
Kemudian menyusul rombongan kedua yang dipimpin oleh Ja'far bin Abi
Thalib. Beberapa sumber menyatakan jumlah rombongan ini lebih dari 80
orang.
Berbagai usaha dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghalangi hijrah ke
Habasyah ini, termasuk membujuk raja negeri tsb agar menolak kehadiran
umat Islam disana. Namun berbagai usaha itu pun gagal. Semakin kejam
mereka memperlakukan umat Islam, justru semakin bertambah jumlah yang
memeluk Islam. Bahkan di tengah meningkatnya kekejaman tsb, dua orang
kuat Quraisy masuk Islam, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin
Khattab. Dengan masuk Islamnya dua orang yang dijuluki "Singa Arab" itu,
semakin kuatlah posisi umat Islam dan dakwah Muhammad SAW pada waktu
itu.
Hal ini membuat reaksi kaum Quraisy semakin keras. Mereka berpendapat
bahwa kekuatan Nabi Muhammad SAW terletak pada perlindungan Bani Hasyim,
maka mereka pun berusaha melumpuhkan Bani Hasyim dengan melaksanakan
blokade. Mereka memutuskan segala macam hubungan dengan suku ini. Tidak
seorang pun penduduk Mekah boleh melakukan hubungan dengan Bani Hasyim,
termasuk hubungan jual-beli dan pernikahan. Persetujuan yang mereka buat
dalam bentuk piagam itu mereka tanda-tangani bersama dan mereka
gantungkan di dalam Ka'bah. Akibatnya, Bani Hasyim menderita kelaparan,
kemiskinan, dan kesengsaraan. Untuk meringankan penderitaan itu, Bani
Hasyim akhirnya mengungsi ke suatu lembah di luar kota Mekah.
Tindakan pemboikotan yang dimulai pada tahun ke-7 kenabian Muhammad SAW
dan berlangsung selama 3 tahun itu merupakan tindakan yang paling
menyiksa. Pemboikotan itu berhenti karena terdapat beberapa pemimpin
Quraisy yang menyadari bahwa tindakan pemboikotan itu sungguh
keterlaluan. Kesadaran itulah yang mendorong mereka melanggar perjanjian
yang mereka buat sendiri. Dengan demikian Bani Hasyim akhirnya dapat
kembali pulang ke rumah masing-masing.
Setelah Bani Hasyim kembali ke rumah mereka, Abi Thalib, paman Nabi SAW
yang merupakan pelindung utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun.
Tiga hari kemudian, Khadijah, istrinya, juga meninggal dunia. Tahun
ke-10 kenabian ini benar-benar merupakan Tahun Kesedihan ('Âm al-Huzn)
bagi Nabi Muhammad SAW. Telebih sepeninggal dua pendukungnya itu, kaum
Quraisy tidak segan-segan melampiaskan kebencian kepada Nabi SAW. Hingga
kemudian Nabi SAW berusaha menyebarkan dakwah ke luar kota, yaitu ke
Ta'if. Namun reaksi yang diterima Nabi SAW dari Bani Saqif (penduduk
Ta'if), tidak jauh berbeda dengan penduduk Mekah. Nabi SAW diejek,
disoraki, dilempari batu sampai ia luka-luka di bagian kepala dan
badannya.
Peristiwa Isra Mi'raj
Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra Mi'raj.
Isra, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaksa di Yerusalem.
Mi'raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Masjidilaksa ke langit
melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha,
arsy (takhta Tuhan), dan kursi (singgasana Tuhan), hingga menerima wahyu
di hadirat Allah SWT.
Dalam kesempatannnya berhadapan langsung dengan Allah SWT inilah Nabi
Muhammad SAW menerima perintah untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari
semalam.
Peristiwa Isra Mi'raj ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Isrâ' ayat 1.
Hijrah
Harapan baru bagi perkembangan Islam muncul dengan datangnya jemaah haji
ke Mekah yang berasal dari Yatsrib (Madinah). Nabi Muhammad SAW
memanfaatkan kesempatan itu untuk menyebarkan agama Allah SWT dengan
mendatangi kemah-kemah mereka. Namun usaha ini selalu diikuti oleh Abu
Lahab dan kawan-kawannya dengan mendustakan Nabi SAW.
Suatu ketika Nabi SAW bertemu dengan 6 orang dari suku Aus dan Khazraj
yang berasal dari Yatsrib. Setelah Nabi SAW menyampaikan pokok-pokok
ajaran Islam, mereka menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi SAW.
Mereka berkata, "Bangsa kami sudah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu
antara suku Khazraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian.
Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaramu dan
ajaran-ajaran yang kamu bawa. Oleh karena itu kami akan berdakwah agar
mereka mengetahui agama yang kami terima dari kamu ini."
Pada musim haji tahun berikutnya, datanglah delegasi Yatsrib yang
terdiri dari 12 orang suku Khazraj dan Aus. Mereka menemui Nabi SAW di
suatu tempat bernama Aqabah. Di hadapan Nabi SAW, mereka menyatakan
ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di Aqabah, maka dinamakan
Bai'at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb kemudian kembali ke Yatsrib
sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh Mus'ab bin Umair yang sengaja
diutus oleh Nabi SAW atas permintaan mereka.
Pada musim haji berikutnya, jemaah haji yang datang dari Yatsrib
berjumlah 75 orang, termasuk 12 orang yang sebelumnya telah menemui Nabi
SAW di Aqabah. Mereka meminta agar Nabi SAW bersedia pindah ke Yatsrib.
Mereka berjanji akan membela Nabi SAW dari segala ancaman. Nabi SAW
menyetujui usul yang mereka ajukan.
Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang
Yatsrib, kaum Quraisy menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal
ini membuat Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke
Yatsrib. Secara diam-diam, berangkatlah rombongan-rombongan muslimin,
sedikit demi sedikit, ke Yatsrib. Dalam waktu 2 bulan, kurang lebih 150
kaum muslimin telah berada di Yatsrib. Sementara itu Ali bin Abi Thalib
dan Abu Bakar as-Sidiq tetap tinggal di Mekah bersama Nabi SAW,
membelanya sampai Nabi SAW mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.
Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW sebelum ia
sempat menyusul umatnya ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan
melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang
terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia
merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta
mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2
ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi
SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW
masih tidur.
Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar
dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum
Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka
berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah
selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam
menunggu keadaan aman. Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy
mulai menurun karena mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah
Nabi SAW dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah
bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2
ekor unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi
SAW bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu
jalan yang tidak pernah ditempuh orang.
Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba, sebuah
desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat
selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di
halaman rumah ini Nabi SAW membangun sebuah masjid yang kemudian
terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi
SAW sebagai pusat peribadatan.
Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW. Sementara itu
penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan
mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya
Nabi SAW sudah tiba di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka pergi ke
tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan
menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan. Akhirnya waktu yang
ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan
kedatangan Nabi SAW. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan
lagu Thala' al-Badru, yang isinya:
Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ'i (celah-celah bukit).
Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi,
Wahai orang yang diutus kepada kami,
engkau telah membawa sesuatu yang harus kami taati.
Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan menginap di rumahnya.
Tetapi Nabi SAW hanya berkata, "Aku akan menginap dimana untaku
berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya."
Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal
dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian
Nabi SAW memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara.
Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum
Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya.
Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi).
Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang
bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.
Terbentuknya Negara Madinah
Setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan diterima penduduk Madinah, Nabi SAW
menjadi pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan dasar-dasar
kehidupan yang kokoh bagi pembentukan suatu masyarakat baru.
Dasar pertama yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan
di dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah
dari Mekah ke Madinah) dan Anshar (penduduk Madinah yang masuk Islam dan
ikut membantu kaum Muhajirin). Nabi SAW mempersaudarakan
individu-individu dari golongan Muhajirin dengan individu-individu dari
golongan Anshar. Misalnya, Nabi SAW mempersaudarakan Abu Bakar dengan
Kharijah bin Zaid, Ja'far bin Abi Thalib dengan Mu'az bin Jabal. Dengan
demikian diharapkan masing-masing orang akan terikat dalam suatu
persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan persaudaraan yang semacam ini
pula, Rasulullah telah menciptakan suatu persaudaraan baru, yaitu
persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan
keturunan.
Dasar kedua adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa persaudaraan
tsb, yaitu tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud adalah masjid, tempat
untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT secara berjamaah, yang juga
dapat digunakan sebagai pusat kegiatan untuk berbagai hal, seperti
belajar-mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam
masyarakat, musyawarah, dan transaksi dagang.
Nabi SAW merencanakan pembangunan masjid itu dan langsung ikut membangun
bersama-sama kaum muslimin. Masjid yang dibangun ini kemudian dikenal
sebagai Masjid Nabawi. Ukurannya cukup besar, dibangun di atas sebidang
tanah dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dindingnya terbuat dari tanah
liat, sedangkan atapnya dari daun-daun dan pelepah kurma. Di dekat
masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi SAW dan keluarganya.
Dasar ketiga adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang
tidak beragama Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam juga
masih terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang
masih menganut agama nenek moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat
dapat diwujudkan, Nabi Muhammad SAW mengadakan ikatan perjanjian dengan
mereka. Perjanjian tsb diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut
dengan Mîsâq Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain
mengenai kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga
keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan derajat,
dan disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala pemerintahan di
Madinah.
Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah setelah
hijrah itu sudah dapat dikatakan sebagai sebuah negara, dengan Nabi
Muhammad SAW sebagai kepala negaranya. Dengan terbentuknya Negara
Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu
membuat orang-orang Mekah menjadi resah. Mereka takut kalau-kalau umat
Islam memukul mereka dan membalas kekejaman yang pernah mereka lakukan.
Mereka juga khawatir kafilah dagang mereka ke Suriah akan diganggu atau
dikuasai oleh kaum muslimin.
Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang baru
didirikan itu, Nabi SAW mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota, baik
langsung di bawah pimpinannya maupun tidak. Hamzah bin Abdul Muttalib
membawa 30 orang berpatroli ke pesisir L. Merah. Ubaidah bin Haris
membawa 60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa'ad bin Abi Waqqas ke Hedzjaz
dengan 8 orang Muhajirin. Nabi SAW sendiri membawa pasukan ke Abwa dan
disana berhasil mengikat perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke Buwat
dengan membawa 200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah. Di
sini Nabi SAW mengadakan perjanjian dengan Bani Mudij.
Ekspedisi-ekspedisi tsb sengaja digerakkan Nabi SAW sebagai aksi-aksi
siaga dan melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan
untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk.
Perjanjian perdamaian dengan kabilah dimaksudkan sebagai usaha
memperkuat kedudukan Madinah.
Perang Badr
Perang Badr yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaun
musyrikin Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan
puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak kaum
muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar setelah
berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW gagal.
Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan
senjata sederhana yang terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat
kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan semangat pasukan yang membaja, kaum
muslimin keluar sebagai pemenang. Abu Jahal, panglima perang pihak
pasukan Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad SAW sejak awal, tewas
dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy, dan 70 orang
lainnya menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14 yang gugur
sebagai syuhada. Kemenangan itu sungguh merupakan pertolongan Allah SWT
(QS. 3: 123).
Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum muslimin.
Mereka memang tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian yang dibuat
antara mereka dan Nabi Muhammad SAW dalam Piagam Madinah.
Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi Muhammad
SAW memutuskan untuk membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai
kemampuan masing-masing. Tawanan yang pandai membaca dan menulis
dibebaskan bila bersedia mengajari orang-orang Islam yang masih buta
aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan kepandaian
apa-apa pun tetap dibebaskan juga.
Tidak lama setelah perang Badr, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian
dengan suku Badui yang kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Nabi
SAW karenan melihat kekuatan Nabi SAW. Tetapi ternyata suku-suku itu
hanya memuja kekuatan semata.
Sesudah perang Badr, Nabi SAW juga menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi
Madinah yang berkomplot dengan orang-orang Mekah. Nabi SAW lalu mengusir
kaum Yahudi itu ke Suriah.
Perang Uhud
Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H. Perang
ini disebabkan karena keinginan balas dendam orang-orang Quraisy Mekah
yang kalah dalam perang Badr.
Pasukan Quraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah, membawa
3.000 ekor unta dan 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin
Walid. Tujuh ratus orang di antara mereka memakai baju besi.
Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad SAW hanya berjumlah 700 orang.
Perang pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul mundur
pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai mundur
dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.
Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah yang
ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan pos mereka dan
turun untuk mengambil harta peninggalan musuh. Mereka lupa akan pesan
Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam keadaan bagaimana
pun sebelum diperintahkan. Mereka tidak lagi menghiraukan gerakan musuh.
Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk segera melancarkan serangan balik.
Tanpa konsentrasi penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan.
Mereka terjepit, dan satu per satu pahlawan Islam berguguran.
Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh. Sisa-sisa pasukan Islam
diselamatkan oleh berita tidak benar yang diterima musuh bahwa Nabi SAW
sudah meninggal. Berita ini membuat mereka mengendurkan serangan untuk
kemudian mengakhiri pertempuran itu.
Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai syuhada.
Perang Khandaq
Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum
muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke
Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini
juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku).
Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman
al-Farisi, sahabat Rasulullah SAW, mengusulkan agar kaum muslimin
membuat parit pertahanan di bagian-bagian kota yang terbuka. Karena
itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.
Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah dengan
mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan
ini cukup membuat masyarakat Madinah menderita karena hubungan mereka
dengan dunia luar menjadi terputus. Suasana kritis itu diperparah pula
oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah,
dibawah pimpinan Ka'ab bin Asad.
Namun akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum muslimin.
Setelah sebulan mengadakan pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu
berkurang. Sementara itu pada malam hari angin dan badai turun dengan
amat kencang, menghantam dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh
perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka terpaksa menghentikan
pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa suatu hasil.
Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati.
Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzâb: 25-26.
Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum
muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW memimpin
langsung sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan
suci Ramadhan, bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu mereka
mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga
diri, bukan untuk berperang.
Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari Mekah.
Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.
Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara lain:
Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun.
Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus
dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad SAW yang menyeberang ke
pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak
Muhammad SAW.
Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak Muhammad SAW maupun dengan pihak Quraisy.
Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb, tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.
Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang Quraisy harus keluar lebih dulu.
Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan membawa
senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di
Mekah lebih dari 3 hari 3 malam.
Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah berusaha
merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam
ke daerah-daerah lain.
Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini:
Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui
konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar ke
luar.
Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh
dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan
pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab.
Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang
Quraisy yang masuk Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang dilakukan
kaum muslimin, disamping juga melihat kemajuan yang dicapai oleh
masyarakat Islam Madinah.
Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain
Gencatan senjata dengan penduduk Mekah memberi kesempatan kepada Nabi
SAW untuk mengalihkan perhatian ke berbagai negeri-negeri lain sambil
memikirkan bagaimana cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang
ditempuh oleh Nabi SAW kemudian adalah dengan mengirim utusan dan surat
ke berbagai kepala negara dan pemerintahan.
di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi SAW adalah raja Gassan
dari Iran, raja Mesir, Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan
cara itu tidak ada raja-raja yang masuk Islam, namun setidaknya risalah
Islam sudah sampai kepada mereka. Reaksi para raja itu pun ada yang
menolak dengan baik dan simpatik sambil memberikan hadiah, ada pula yang
menolak dengan kasar.
Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang dikirim Nabi
SAW dibunuhnya dengan kejam. Sebagai jawaban, Nabi SAW kemudian
mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 orang dibawah pimpinan Zaid bin
Haritsah. Peperangan terjadi di Mu'tah, sebelah utara Semenanjung Arab.
Pasukan Islam mendapat kesulitan menghadapi tentara Gassan yang mendapat
bantuan langsung dari Romawi. Beberapa syuhada gugur dalam pertempuran
melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang itu. di antara mereka
yang gugur adalah Zaid bin Haritsah sendiri, Ja'far bin Abi Thalib, dan
Abdullah bin Abi Rawahah.
Melihat kekuatan yang tidak seimbang itu, Khalid bin Walid, bekas
panglima Quraisy yang sudah masuk Islam, mengambil alih komando dan
memerintahkan pasukan Islam menarik diri dan kembali ke Madinah.
Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut dengan Perang Mu'tah.
Kembali ke Mekah
Selama 2 tahun Perjanjian Hudaibiyah, dakwah Islam sudah menjangkau
Semenanjung Arab dan mendapat tanggapan yang positif. Hampir seluruh
Semenanjung Arab, termasuk suku-suku yang paling selatan, telah
menggabungkan diri ke dalam Islam. Hal ini membuat orang-orang Mekah
merasa terpojok. Perjanjian Hudaibiyah ternyata telah menjadi senjata
bagi umat Islam untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu secara sepihak
orang-orang Quraisy membatalkan perjanjian tsb. Mereka menyerang Bani
Khuza'ah yang berada di bawah perlindungan Islam hanya karena kabilah
ini berselisih dengan Bani Bakar yang menjadi sekutu Quraisy. Sejumlah
orang Kuza'ah mereka bunuh dan sebagian lainnya dicerai-beraikan. Bani
Khuza'ah segera mengadu pada Nabi Muhammad SAW dan meminta keadilan.
Rasulullah SAW segera bertolak dengan 10.000 orang tentara untuk melawan
kaum musyrik Mekah itu. Kecuali perlawanan kecil dari kaum Ikrimah dan
Safwan, Nabi Muhammad SAW tidak mengalami kesukaran memasuki kota Mekah.
Nabi SAW memasuki kota itu sebagai pemenang. Pasukan Islam memasuki
kota Mekah tanpa kekerasan. Mereka kemudian menghancurkan patung-patung
berhala di seluruh negeri. Allah SWT berfirman:
"...Kebenaran sudah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya
yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap."(QS. 17: 81)
Setelah melenyapkan berhala-berhala itu, Nabi SAW berkhotbah menjanjikan
ampunan bagi orang-orang Quraisy. Setelah khotbah tsb,
berbondong-bondong mereka datang dan masuk Islam. Ka'bah bersih dari
berhala dan tradisi-tradisi serta kebiasaan-kebiasaan musyrik.
Sejak itu, Mekah kembali berada di bawah kekuasaan Nabi SAW.
Setelah Mekah dapat dikalahkan, masih terdapat suku-suku Arab yang
menentang, yaitu Bani Saqif, Bani Hawazin, Bani Nasr, dan Bani Jusyam.
Suku-suku ini berkomplot membentuk satu pasukan untuk memerangi Islam
karena ingin menuntut bela atas berhala-berhala mereka yang diruntuhkan
Nabi SAW dan umat Islam di Ka'bah. Pasukan mereka dipimpin oleh Malik
bin Auf (dari Bani Nasr).
Dalam perjalanan mereka ke Mekah, mereka berkemah di Lembah Hunain yang sangat strategis.
Kurang lebih 2 minggu kemudian, Nabi SAW memimpin sekitar 12.000 tentara
menuju Hunain. Saat melihat banyak pasukan Islam yang gugur, sebagian
pasukan yang masih hidup menjadi goyah dan kacau balau, sehingga Nabi
SAW kemudian memberi semangat dan memimpin langsung peperangan tsb.
Akhirnya umat Islam berhasil menang. Pasukan musuh yang melarikan diri
ke Ta'if terus diburu selama beberap minggu sampai akhirnya mereka
menyerah. Pemimpin mereka, Malik bin Auf, menyatakan diri masuk Islam.
Dengan ditaklukannya Bani Saqif dan Bani Hawazin, kini seluruh
Semenanjung Arab berada di bawah satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan
Nabi Muhammad SAW. Melihat kenyataan itu, Heraclius, pemimpin Romawi,
menyusun pasukan besar di Suriah, kawasan utara Semenanjung Arab yang
merupakan daerah pendudukan Romawi. Dalam pasukan besar itu bergabung
Bani Gassan dan Bani Lachmides.
Dalam masa panen dan pada musim yang sangat panas, banyak pahlawan Islam
yang menyediakan diri untuk berperang bersama Nabi SAW. Pasukan Romawi
kemudian menarik diri setelah melihat betapa besarnya pasukan yang
dipimpin Nabi SAW. Nabi SAW sendiri tidak melakukan pengejaran,
melainkan ia berkemah di Tabuk. Disini Nabi SAW membuat beberapa
perjanjian dengan penduduk setempat. Dengan demikian daerah perbatasan
itu dapat dirangkul ke dalam barisan Islam.
Perang yang terjadi di Tabuk ini merupakan perang terakhir yang diikuti Rasulullah SAW.
Pada tahun 9 dan 10 H banyak suku dari seluruh pelosok Arab yang
mengutus delegasinya kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan tunduk
kepada Nabi SAW. Masuknya orang Mekah ke dalam agama Islam mempunyai
pengaruh yang amat besar pada penduduk Arab. Oleh karena itu, tahun ini
disebut dengan Tahun Perutusan atau 'Âm al-Bi'sah. Mereka yang datang ke
Mekah, rombongan demi rombongan, mempelajari ajaran-ajaran Islam dan
setelah itu kembali ke negeri masing-masing untuk mengajarkan kepada
kaumnya. Dengan cara ini, persatuan Arab terbentuk. Peperangan antar
suku yang berlangsung selama ini berubah menjadi persaudaraan agama.
Pada saat itu turunlah firman Allah SWT:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat
manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah
dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia
adalah Maha Penerima taubat. (QS. 110: 1-3)
Kini apa yang ditugaskan kepada Nabi Muhammad SAW sudah tercapai.
Di tengah-tengah suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban, telah lahir seorang nabi.
Ia telah berhasil membacakan ayat-ayat Allah SWT kepada mereka dan
mensucikannya serta mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, padahal
sebelumnya mereka berada dalam kegelapan yang pekat.
Pada awalnya Nabi Muhammad SAW mendapati mereka bergelimang dalam
ketakhyulan yang merendahkan derajat manusia, lalu ia mengilhami mereka
dengan kepercayaan kepada satu-satunya Tuhan yang Maha Besar dan Maha
Kasih Sayang.
Saat mereka bercerai-berai dan terlibat dalam peperangan yang seolah tak
ada habisnya, dipersatukannya mereka dalam ikatan persaudaraan.
Kalau sebelumnya Semenanjung Arab berada dalam kegelapan rohani, maka ia
datang membawa cahaya terang-benderang untuk menyinari rohani mereka.
Pekerjaannya selesai sudah, dan seluruhnya dikerjakan dengan baik semasa hidupnya.
Disinilah letak keunggulan Nabi Muhammad SAW dibanding dengan nabi-nabi yang lain.
Ibadah haji terakhir
Pada tahun 10 H, Nabi SAW mengerjakan ibadah haji yang terakhir, yang disebut juga dengan haji wada'.
Pada tanggal 25 Zulkaidah 10/23 Februari 632 Rasulullah SAW meninggalkan
Madinah. Sekitar seratus ribu jemaah turut menunaikan ibadah haji
bersamanya.
Pada waktu wukuf di Arafah, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah. Isi khotbah itu antara lain:
larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq (benar) dan mengambil
harta orang lain dengan bathil (salah), karena nyawa dan harta benda
adalah suci.
larangan riba dan larangan menganiaya
perintah untuk memperlakukan para istri dengan baik serta lemah lembut
perintah menjauhi dosa
semua pertengkaran di antara mereka di zaman Jahiliah harus dimaafkan
pembalasan dengan tebusan darah sebagaimana yang berlaku di zaman Jahiliyah tidak lagi dibenarkan
persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan
hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, yaitu mereka memakan apa
yang dimakan majikannya dan memakai apa yang dipakai majikannya
dan yang terpenting, bahwa umat Islam harus selalu berpegang teguh pada
dua sumber yang tak akan pernah usang, yaitu Al-Qur'an dan Sunah Nabi
SAW.
Setelah itu Nabi SAW bertanya kepada seluruh jemaah, "Sudahkan aku
menyampaikan amanat Allah, kewajibanku, kepada kamu sekalian?"
Jemaah yang ada di hadapannya segera menjawab, "Ya, memang demikian adanya."
Nabi Muhammad SAW kemudian menengadah ke langit sambil mengucapkan, "Ya Allah, Engkaulah menjadi saksiku."
Dengan kata-kata seperti itu Rasulullah SAW mengakhiri khotbahnya.
Kembali ke Madinah
Setelah upacara haji yang lain disempurnakan, Nabi Muhammad SAW kembali
ke Madinah. Disinilah ia menghabiskan sisa hidupnya. Ia mengatur
organisasi masyarakat di kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam dan
menjadi bagian dari persekutuan Islam. Petugas keamanan dan para da'i
dikirimnya ke berbagai daerah untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam,
mengatur peradilan Islam, dan memungut zakat. Salah seorang di antara
petugas itu adalah Mu'az bin Jabal yang dikirim oleh Nabi SAW ke Yaman.
Ketika itulah hadist Mu'az yang terkenal muncul, yaitu perintah Nabi SAW
agar Mu'az menggunakan pertimbangan akalnya dalam mengatur
persoalan-persoalan agama apabila ia tidak menemukan petunjuk dalam
Al-Qur'an dan hadist Nabi SAW.
Pada saat-saat itu pula wahyu Allah SWT yang terakhir turun:
"... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agamamu ..." (QS. 5: 3)
Mendengar ayat ini, banyak orang yang bergembira karena telah sempurna
agama mereka, tetapi ada pula yang menangis, seperti Abu Bakar, karena
mengetahui bahwa ayat itu jelas merupakan pertanda berakhirnya tugas
Rasulullah SAW.
Wafatnya Nabi SAW
Dua bulan setelah menunaikan ibadah haji wada' di Madinah, Nabi SAW
sakit demam. Meskipun badannya mulai lemah, ia tetap memimpin shalat
berjamaah. Baru setelah kondisinya tidak memungkinkan lagi, yaitu 3 hari
menjelang wafatnya, ia tidak mengimami shalat berjamaah. Sebagai
gantinya ia menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat. Tenaganya dengan
cepat semakin berkurang.
Pada tanggal 13 Rabiulawal 11/8 Juni 632, Nabi Muhammad SAW
menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah istrinya, Aisyah binti Abu
Bakar, dengan wasiat terakhir, "Ingatlah shalat, dan taubatlah...".
Detik-detik Wafatnya Nabi Muhammad SAW
PAGI itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah: “Wahai
umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka
taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian,
Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti
mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama
masuk surga bersama aku,".
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh
menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan
berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.
Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan
meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia
tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap
menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu,
seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya tengah menahan detik-detik
berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang
di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan
salam.
“Assalaamu’alaikum… .Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang
demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian
ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu, wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur
Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan
yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan tangisnya.
Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa
Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya
sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan
Penghulu dunia ini. (sepertinya Malaikat Jibril Tidak Sanggup melihat
Rasulullah dicabut nyawanya)
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu,
semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi
itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad
telah berada didalamnya’,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh
Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah mengaduh lirih.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling
berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii. ummatii. ummatii.”
“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan
masuklah ke dalam jannah-Ku.”
‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau
menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau
telah wafat.”
Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg
kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para
sahabat, dan kukatakan:
”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid, karena beratnya kabar
tersebut, ‘Ustman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke
kiri dan ke kanan.
Adapun Umar bin Khathab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan
bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan
kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui
Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui Rabb-Nya.”
Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada
Rasulullah, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai
kekasihku, wahai bapakku.”
Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa
menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa
yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak
akan mati.”
‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah
manusia yang paling mulia, manusia yang paling kita cintai pada waktu
dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia
63 tahun lebih 4 hari. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi
tercinta Rasulullah.
Allahumma shali'alla sayyidina wa mawlana Muhammad....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar